Jumat, 25 Mei 2012

Hari Rabu (9/5/2012) merupakan hari yang membahagiakan, khususnya bagi Drs. Eko Handoyo, M.Si. dan keluarga yang akrab dipanggil Pak Eko ini serta bagi segenap keluarga besar FIS Unnes, karena beliau telah menyelesaikan Ujian Terbuka Program Doktor Studi Pembangunan dari Program Pascasarjana UKSW Salatiga dan lulus dengan predikat Cumlaude.

Dosen Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan FIS Unnes, yang saat ini menjabat sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik (PD I) FIS Unnes, dan juga menjadi Ketua Pokja Anti Korupsi Unnes, serta sebagai Sekjen Ikatan Alumni Unnes ini, telah menyelesaikan Disertasi dengan judul “Eksistensi Pedagang kaki Lima (PKL) – Studi tentang Kontribusi Modal Sosial Terhadap Resistensi PKL Di Kota Semarang”. Menurut hasil penelitiannya, modal sosial bermula dari semangat para PKL untuk melakukan tindakan bersama (kolektif) melawan kebijakan Pemkot yang tidak aspiratif dan akomodatif terhadap kepentingan mereka. Modal sosial inilah yang disebut dengan modal sosial dengan pengorbanan atau sacrifice of social capital. Modal sosial pengorbanan ini secara teoritik dapat memperkaya konsep modal sosial yang selama ini dikembangkan oleh para teorisi modal sosial, terutama konsep modal sosial yang bernisbah dengan persoalan ekonomi dan politik. Dalam aspek pembangunan, modal sosial pengorbanan ini jika dipadu dengan modal institusional dari pemerintah, dapat menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, baik dari segi proses maupun hasil.

Seluruh keluarga Besar Fakultas Ilmu Sosial Unnes mengucapkan selamat dan sukses kepada Dr. Eko Handoyo, M.Si. Kita berharap bertambahnya jumlah Doktor di FIS Unnes akan memberi manfaat nyata bagi pengembangan FIS sesuai dengan kepakarannya, sehingga FIS dapat menjadi fakultas bertaraf internasional yang mengedepankan Konservasi Sosial yang sehat, unggul dan sejahtera. (bas)


Dikutip pada FIS UNNES
Sigitpandu73@yahoo.co.id
Copyright@2012

Selasa, 22 Mei 2012

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)

“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”