Sabtu, 02 November 2013

SERING kita mendengar pertanyaan: Bagaimana cara menjadi sosok guru yang dihormati? Jawabnya mudah: Pasang air muka sangar, persiapkan suara nyaring, kemudian ancamkan nilai buruk kepada siswa jika mereka tak menghormati Anda.
Lantas, apakah mereka, para peserta didik itu benar-benar akan hormat? Ya. Dengan ikhlas? Belum tentu, dan kebanyakan, saya yakin: tidak!
Sejenak, mari kita letakkan antologi kitab administratif perangkat pembelajaran. Baik itu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, program semester (promes), maupun program tahunan (prota). Ketahuilah, sebagai pendidik, di luar ranah akademik ada area yang sifatnya universal. Saya menyebutnya domain ekstraakademik, suatu tempat pertalian relasi antara manusia dan manusia. Ingat, men is a social beings(Aristoteles).
Wilayah tersebut sebenarnya amat penting. Namun celakanya, kini masih banyak tersubordinasi oleh tipe “guru kurikulum”, guru yang habitual thinking. Mengajar hanya untuk tuntutan kurikulum, lalu: selesai!
Jadilah Inspirasi
Guru inspiratif bukanlah guru yang sekadar punya orientasi kurikulum. Apalagi, sampai terpaku dalam hubungan rigid antara guru dan siswa semata. Guru inspiratif memiliki pandangan yang lebih komprehensif. Mereka mengajak murid untuk berpikir kreatif, luwes, serta out of box.
Ini penting. Sebab, muara inspirasi adalah bangkitnya motivasi. Dan kebangkitan motivasi, tentu akan mendorong siswa untuk semakin getol belajar. Jadi, jangan pernah segan menyisipkan kutipan-kutipan inspiratif, jangan enggan menyelipkan kalimat-kalimat motivasional saat pembelajaran. Jangan pernah. Prey Katz mengatakan, guru juga pemberi inspirasi.
Bangun Komunikasi
Saya cermati, tidak sedikit guru yang ber-“ego” besar dalam berkomunikasi dengan murid. Tapi nyatanya, hal tersebut tak membawa faedah yang besar pula. Banyak di antara siswa yang justru acuh merespons guru demikian ketika pembelajaran. Oleh karena itu, hentikan gengsi saat hendak menyapa murid lebih awal. Urungkan sikap represif, tebarkan senyum kepada setiap peserta didik. Mulailah sekarang juga.
Boleh saja jaga gengsi, tapi gengsi yang bermanfaat. Gengsi jika tidak menguasai materi, gengsi bila alpa membangun komunikasi. Sekali lagi, komunikasi guru dengan murid yang terjalin secara positif pun akhirnya akan turut mendukung siswa supaya kian naik etos belajarnya. Sekolah bukan cuma ajang kepatuhan, sekolah ialah ajang bertukar pikiran.
Kita, dalam hidup, memang senantiasa dihadapkan pada berbagai opsi. Seperti halnya dua opsi menjadi seorang guru yang dihormati. Pertama, karena ditakuti. Kedua, karena dicintai. Pilih mana? “Tak seorang pun pernah dihormati karena apa yang dia terima, kehormatan adalah penghargaan bagi orang yang telah memberikan sesuatu yang berarti.” Begitu Calvin Coolidge pernah berkata.

–Arie Hendrawan
, mahasiswa Jurusan Politik dan Kewarganegaraan; baru saja menempuh PPL di MAN 1 Semarang

0 Komentar:

Posting Komentar