Minggu, 09 Februari 2014

Tantangan Integrasi Bangsa di Era Global?
Dewasa ini masalah integrasi bangsa menjadi urgensi tersendiri diberbagai hierarkhis masyarakat. Dimana integrasi bangsa dalam hal ini Indonesia erat kaitannya dengan identitas nasional bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia ialah bangsa multikultural yang terdiri dari berbagai kelompok sosial budaya yang sangat hiterogen.
Dalam dinamikanya masalah aktualisasi Pancasila selalu mengalami perubahan dalam kehidupan praksis masyarakat, dimana Pancasila secara umum mampu ditranformasikan dalam berbagai ranah waktu dan kehidupan, namun hal ini menjadi permasalahan besar ketika Pancasila yang bersifat non-rigid dalam menanggapi masalah global itu disalahgunakan berbagai pihak dalam  kepentingan, sehingga menimbulkan suatu wacana dan anggapan banyak orang yang kerapa mempertanyakan relevansi, kontekstualisasinya, hingga pada konsistensi Pancasila itu sendiri. Ini menjadi suatu tantangan besar di era global ini, dimana globalisasi sering diartikan dengan dunia tanpa batasan lagi.
Dalam hal ini erat kaitanya bahwa globalisasi pula mempengaruhi bangsa Indonesia, yang mana globalisasi memberikan berbagai dampak dalam kehidupan bangsa Indonesia. Urgensi utama dalam hal ini manakala globalisasi sering diartikan sebagai “dunia tanpa batasan” ini masuk dan me-dekontruksi nilai-nilai pancasila. Nilai yang merupakan aktualisasi yang bersifat adiluhung dari kepribadian bangsa Indonesia yang secara eksplisit harus kita uri-uri dan kita jaga dalam perwujudan kehidupan berbangsa dan bernegara. Manakala nilai-nilai tersebut telah tergerus, globalisasi yang harusnya mampu kita serap nilai-nilai positifnya justru akan menjadi boomerang bagi integritas bangsa Indonesia. Distorsi nilai-nilai pancasila yang dikemas sedemikian rupa pada era globalisasi, yang diiringi pula dengan penguatan argumen yang seolah-olah rasional dan objektif merupakan salah satu bentuk perusakan jati diri bangsa Indonesia. Padahal dengan tegas Pacasila merupakan bentuk anestesi dari bentuk kapitalisme barat di era global ini. Jika semua ini terus berlangsung bisa jadi “generasi Indonesia Emas 2045” yang di gembor-gemborkan dalam berbagai wacana dan pembicaraan menjadi titik balik yang menyerang Integritas bangsa Indonesia. Realitas pemuda zaman dewasa ini sangatlah beragam, namun yang menjadi sorotan utama kita ialah gaya hidup pemuda di era ini ialah mulai terjerembaknya para pemuda dalam jurang hedonisme yang menekankan pada kesenangan dunia. Serangan 3 F (Fun, Food, Fashion) yang diusung paham hidonisme telah melunturkan nilai-nilai adiluhung Pancasila. Terjangkit dan terjebak pemuda dalam sindrom hedonis ini, benar-benar menyebabkan implikasi besar yang menyeret pemuda dalam kerangka berpikir yang dangkal yang akan menyebabkan berkurangnya produktifitas pemuda dalam pembangunan bangsa. Sehingga tidak salah di era global ini masalah integrasi bangsa menjadi sorotan utama. Telah disebutkan dimuka integrasi bangsa erat kaitanya dengan identitas dan persatuan bangsa. Dimana Identitas Bangsa ialah hal pembeda dan ciri khas yang berbeda dalam kancah dunia Internasional. Eksistensi dari identitas bangsa ini sangatlah penting disaat tatanan masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan dimana sikap apatisme terhadap jati diri bangsa mulai pudar seiring masuknya era global yang begitu dahsyat. Dimana terjadi banyak kerusakan moral sosial masyarakat yang tidak mencerminkan jati diri bangsa. Bangsa yang dulu disegani kini dipandang sebelah mata. Dimana bangsa Indonesia tidak saja mengalami krisis identitas melainkan pula mengalami krisis dalam dimensi kehidupan. Dari berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia perlu adanya keoptimisan yang harus dipikul bersama terutam oleh pemuda sebagai generasi dan kader penerus bangsa.

Reaktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Guna Mewujudkan Integrasi Bangsa secara “De Facto” dan Menetaskan Generasi Indonesia Emas 2045

Reaktualisasi nilai-nilai Pancasila merupakan salah satu bentuk usaha yang sejatinya ialah mengaktualisasikan kembali nilai-nilai pancasila dalam kehidupan praksis. Oleh sebab itu penting kaitannya dalam mengaktualisasikan kembali nilai-nilai pancasila, bahwa pancasila perlu di “dekonstruksi” atau kita baca ulang nilai-nilai pancasila yang telah tergerus oleh kesalahpahaman penafsiran, sehingga kita mampu memahami nilai-nilai pancasila secara utuh, lebih dalam dari itu kita akan mampu me-reaktualisasi nilai-nilai pancasila dalam bentuk penyikapan dan pelaksanaan nilai-nilai pancasila secara baik dan benar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga realisasi dari reaktualisasi nilai-nilai pancasila benar-benar menjadi sebuah pengakuan secara “de facto” atau pada kenyataannya, bukan sekedar wacana tekstual belaka. Ketika reaktaulisasi nilai-nilai pacasila menjadi sebuah pengakuan secara “de facto”, maka tidak dapat dipungkiri akan terwujudnya integrasi bangsa secara utuh dan kokoh bukan sekedar isapan jempol belaka. Reaktualisasi nilai-nilai pancasila merupakan sebuah jalan keluar dari berbagai bentuk tantangan mengenai disintegrasi dan chaos yang tengah melanda bangsa ini. Keoptimisan lebih lanjut pun akan tercipta yaitu terwujudnya wacana yang sekarang ini tengah ramai diperbincangkan yaitu terwujudnya generasi Indonesia emas 2045 yang mana hal ini bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka. Dalam pidatonya Presiden Soekarno pernah mengobarkan semangat juang dari para pemuda Indonesia. “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”, jelas sekali betapa besar harapan Soekarno pada pemuda Indonesia. Harapan besar itu begitu jelas, hal ini harus pula disertai  keoptimisan terhadap generasi muda, karena generasi muda memiliki kecenderungan bersifat antusias dan progresifitas dengan idealismenya yang diharapkan menjadi potensi dalam pembangunan bangsa. Lebih dalam dari itu kita perlu mempersiapkan usaha preventif manakala hal itu tidak dibarengi dengan aktualisasi nilai-nilai pancasila justru semua itu akan menjadi boomerang bagi bangsa Indonesia itu sendiri. Hal ini semakin dipertegas dengan fakta dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat bawasannya pemuda saat ini cenderung cenderung berorientasi pada gaya hidup hidonis yang mementingkan kenikmatan dunia semata. Namun ini bukan sebuah kepesimisan, namun ini merupakan sebuah stimulan bahwa reaktualisasi nilai-nilai pancasila menjadi sebuah urgensi yang harus segera digalakan dan dilaksanakan. Dengan adanya reaktualisasi nilai-nilai pancasila diharapkan pemuda mampu lepas dari jerembak hindonis menuju jati diri aduluhung pancasila yang meletakan keberagaman sebagai tiang ataupun pilar bangsa  diatas semboyan bhinneka tunggal ika yang termaktub dalam lambang dan ideologi bangsa Indonesia yaitu pancasila. Menjadi sebuah simpulan singkat bahwa reaktualisasi nilai-nilai pancasila bersifat urgen dan harus segera digalakan dan dilaksanakan menyusul banyaknya tantangan mengenai disintegrasi dan chaos bangsa yang melenceng terhadap nilai-nilai luhur pancasila. 

(EI-Wong Pinggiran)

0 Komentar:

Posting Komentar