Rabu, 05 Maret 2014


Republik Opini hanyalah kiasan semata untuk menggambarkan kedaan politik di negeri kita. Bagaimana tidak, kebijakan yang bersifat khusus maupun publik dapat dipengaruhi bahkan dilatarblekangi  hanya dengan sebuah pembentukan opini yang belum tentu tepat. 
Yang menjadi titik permasalahannnya ialah banyak kebijakan baik itu dari badan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif cenderung mengikuti opini yang beredar di masyarakat kesannya tanpa memandang falsafah bangsa atau konstitusi negara. Dapat diartikan bahwa “kami mau ini, ok kita akan kabulkan”. Seperti contoh kasus berikut ini,

1.    Pembangunan gedung DPR
Pembangunan yang sebenarnya sudah dirancang dengan baik, namun justru malah mogok ditengah jalan hanya karena desakan dari “masyarakat” (sebenarnya hanyalah pembentukan opini oleh oknum). Rancangan yang sudah dibuat jadi tak efektif, yang kita ketahui dalam pembuatan rencana tersebut pasti juga memerlukan suntikan dana yang tidak sedikit. Anggota dewan juga seolah hanya ingin meyelamatkan nama baik mereka, agar tidak dinilai anti pro rakyat. Ya... itulah kekuatan opini di negeri ini.

2.    Keseimbangan Pers yang timpang

Sebenarnya penulis malas membicarakan masalah ini.. Pers yang seharusnya memberi informasi yang berimbang, namun kenyataannya bukan berimbang namun  menerapkan “politik sungkan”. Banyak dari mereka memiliki kepentingan yang bersangkutan dengan Politik, mengapa dinamakan “Politik Sungkan”... sudah kita ketahui bahwa kebanyakan dari media, misalnya elektronik merupakan alat untuk menjatuhkan lawan politiknya, tak heran karena kebanyakan  Petinggi media eletronik tersebut ialah Politisi yang akan bertarung ke singggasana kehormatan tertinggi teragung apapun itu. Kalau kita amati dalam acara media tersebut, jika mengundang narasumber dari lawan politiknya maka narasumber tersebut akan terus dipojokkan dengan menggunakan berbagai macam pertanyaan apakah pertanyaan itu masuk akal atau tidak. Namun yang pasti cara tersebut efektif untuk menggiring pikiran masyarakat untuk sejalan pikirannya dengan mereka.. itulah kekuatan Opini di negeri ini.

3.    Political Gossip System (PGS)

Dari namanya kita sudah tahu bahwa adanya terjadinya Gossip Politik dapat mempengaruhi kebijakan baik itu pemerintah maupun pihak yang berkepntingan. Kita dapat mengamati dewasa ini, setiap berganti hari pasti ada kasus yang seolah-olah memiliki retorika episode dan sudah di skenario. Topik yang tak penting pun dapat dijadikan tema olah beberapan media walaupun tema itu hanyalah berisi gossip semata. Hehe tak heran jika banyak omongan dari narasumber tak berpola istilahnya. Yang penulis pikirkan apakah suatu saat nanti acara politik dapat menjadi infoteinment. Kita tunggu saja, ketika Gossip Politik menjadi salah satu acara di Televisi..itulah kekuatan  opini di negeri ini.

Yang penulis harapkan ialah kecerdasan masyarakat dalam menyikapi “Republik Opini”, jangan sampai masyarakat dijadikan alat segelintir orang untuk kepentingan mereka sendiri.. ironis jika kekuatan Konstitusi dikalahkan dengan kekuatan Opini. Namun yang pasti Opini akan selalu mengawal dunia politik di negeri kita, baik itu opini yang “terpustaka” ataupun tidak “terpustaka”

0 Komentar:

Posting Komentar