Jumat, 13 Maret 2015



Inheren-nya peran pemuda dengan kemajuan suatu bangsa
Lagi-lagi oleh pemuda.. Membicarakan pemuda tentu sangat kompleks dari berbagai sudut pandang. Golongan yang sering dianggap memiliki kekuatan istimewa, semangat perubahan, dan inheren dengan kemajuan suatu bangsa. Tongkat estafet pembangunan karekter bangsa dan negeri ini akan terus berganti dari masa ke masa. Di sinilah pemuda seharusnya mengambil peran. Tak ubahnya sebuah adagium syubhannul yaum rijaalul ghoddi” yang mengandung pengertian bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan, Maka dari itu tidak heran, jika ada yang mengatakan bahwa sebuah negara akan menjadi kuat eksistensinya, ketika para pemudanya mampu tampil aktif dan dinamis di tengah-tengah  masyarakat, itulah yang menjadi representasi cita-cita setiap bangsa dimana diharapkan generasi muda tidak hanya menjadi agent of intellectual namun juga menjadi agent of change.
Namun bagaimana realitasnya?, secara sadar kita merasakan bahwa saat ini pemuda sedang dilanda krisis multi dimensi yang menghebat. Pemuda telah kehilangan pegangan hidup karena tumbangnya aturan sosial (social order) yang dikalahkan oleh kemajuan zaman. Keadaan inilah yang dalam kaca surya kanta ilmu sosial sering dinamakan periode anomali, yakni suatu masa dimana masyarakat khususnya generasi muda berada dalam kondisi kebingungan akibat ketidakpastian yang membuatnya berada dalam krisis moral yang cukup pelik (kompas mahasiswa, edisi 85:44). Sikap kritis sebagai ciri khas intelektualitas pemuda telah hilang. Mereka tidak mampu lagi meluruskan dassein yang melenceng dari das sollen-nya. Apalagi dalam era globalisasi saat ini. Pengaruh globalisasi telah mengalihkan generasi muda kedalam gaya hidup yang serba instan. Atas dasar itu perlulah suatu bangsa untuk dapat me-reaktifitaskan kembali peran generasi muda sebagai role model yang kompetitif dalam menghadapi tantangan global. Bagaimana caranya?, pertama dapat dengan memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berpartisipasi secara aktif dalam bidang sosial, politik, dan khususnya perekonomian. Dengan diberinya kesempatan lebih terhadap kalangan pemuda khususnya dalam membangun kesejahteraan bangsa, diharapkan kalangan pemuda ini mampu menjadi profesional dibidangnya dan kompetitif dalam tataran global. Selain itu cara lain yang dapat dilakukan suatu negara ialah “mewadahi” role youth ataupun peran pemuda dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta kompetensinya disegala bidang sebagai wujud “distribusi” peran pemuda, dari awalnya hanya sebatas imajiner semata menjadi suatu upaya membentuk profesionalitas pemuda dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang kompetitif untuk dapat bersaing dalam tataran global.
Urgensitas pengembangan sumber daya manusia dalam tantangan global
Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh dua faktor utama yakni sumber daya alam (natural resources) dan sumber daya manusia (human resources). kedua sumber daya tersebut sangat penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Tetapi apabila dipertanyakan sumber daya mana yang lebih penting diantara kedua sumber daya tersebut, maka jelas sumber daya manusialah yang lebih penting. Hal ini dapat kita amati dari kemajuan-kemajuan suatu negara yang menjadikan sumber daya manusianya sebagai indikator keberhasilan pembangunan bangsa tersebut dalam menghadapi tantangan global. Jika dilihat secara makro, pengembangan sumber daya manusia dapat digambarkan sebagai suatu upaya untuk mengembangkan kualitas atau kemampuan sumber daya manusia agar mampu mengolah sumber daya yang ada dengan berbagai macam teknologinya sehingga dapat digunakan untuk kesejahteraan masyarakat secara optimal, sebagai tujuan dari pembangunan suatu bangsa. Sedangkan dilihat dari optik lain yakni secara mikro pengembangan sumber daya di suatu negara dapat dimaknai sebagai pengembangan tenaga kerja, sehingga mampu mencapai tujuan dari negara tersebut. Jadi jika dilihat dari kacamata faktual, canggihnya sarana dan prasarana serta teknologi suatu bangsa bila tidak ditunjang oleh sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan yang memadai, maka niscaya negara tersebut akan sulit berkembang.
Tatanan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 misalnya, sangat mungkin menjadi hantaman keras bagi para pekerja Indonesia khususnya pemuda apabila kualifikasi personal yang mereka miliki tidak ditunjang pula oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai, dan hal yang harus diingat adalah masyarakat indonesia harus bersiap menyambut dan menghadapi tenaga-tenaga kerja asing yang sering diasumsikan lebih terampil ketimbang mereka. Disini kita dapat menyimpulkan, bahwa kemampuan bersaing Sumber Daya Manusia (SDM) indonesia urgen ditingkatkan baik itu secara formal maupun informal, (Departemen Perdagangan, 2008: 80), utamanya melalui pendidikan dan pelatihan yang konsekuen dan berkala.
Reaktifitas peran pemuda menuju AEC 2015
Berbagai upaya “memantapkan” langkah dalam memintasi persiapan menuju ASEAN Economic Community 2015. Implementasi terkait upaya dalam mencapai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 sepenuhnya terletak pada kemauan dan itikad baik setiap warga bangsa. Apabila masyarakat dapat mendistribusikan perannya dalam pencapaian MEA 2015, hal itu akan berdampak pada kecepatan, kekuatan, dan kelanjutan pencapaian MEA 2015. Hal inilah yang menjadi faktor krusial mengingat besarnya kesenjangan ekonomi dan kesiapan negara menuju MEA 2015. Atas dasar itu untuk memintasi kesenjangan yang terjadi, perlulah dibangun reaktifitas masyarakat khususnya kalangan pemuda dalam keikutsertaan menggapai MEA 2015. Lalu kenapa  harus reaktifitas peran pemuda?, Seperti halnya gambaran negatif dari dampak globalisasi telah membuat kebanyakan pemuda terjerumus konstan berada di “zona nyaman” mereka dalam hidup yang serba instan. Memang tidak semua, tapi setidaknya itulah representasi gambaran pemuda dalam gaya hidup yang cenderung apatis dalam melihat kenyataan dari sebuah tantangan yang dihadapi oleh bangsanya.
Berdasar urgensitas tersebut, sangatlah penting meng-aktifkan kembali peran kalangan pemuda untuk meninggalkan sikap pasifnya dalam berkontribusi untuk negara. Ada beberapa variabel penting kaitannya dalam mengembangkan sumber daya manusia yang kompetitif. Yang pertama, ialah melalui pendidikan dan pelatihan, dalam hal ini merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan intelektual, kompetensi dan keterampilan serta kualitas sumber daya manusia dalam hal ini generasi muda. Pendidikan dan pelatihan (DikLat) merupakan faktor penting dalam mewadahi peran pemuda untuk meningkatkan kemampuan ke arah yang diinginkan, pendidikan pada umumnya berkaitan dengan mempersiapkan calon tenaga kerja yang diperlukan oleh instansi ataupun suatu negara tersebut, sedangkan pelatihan lebih berkaitan dengan peningkatan keterampilan atau kompetensi khusus untuk memastikan job orientation yang seharusnya mereka kuasai sebagai profesional. Dan kedua, melalui manajemen sumber daya manusia. Dalam hal ini Manajemen sumber daya manusia hakekatnya adalah untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengintegrasikan peran pemuda dalam rangkai mencapai MEA 2015.
            Dalam reaktifitas peran pemuda, pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk investasi. Oleh karena itu setiap bangsa yang ingin berkembang, maka pendidikan dan pelatihan bagi kalangan pemudanya harus memperoleh perhatian yang besar. Begitupun sama halnya dengan manajemen sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia ini mempunyai kekhususan dibandingkan dengan manajemen secara umum lainnya. Karena yang di “manage” adalah manusianya dalam hal ini generasi muda, sehingga keberhasilan dan kegagalan manajemen sumber daya manusia ini akan menentukan sejauh mana kalangan pemuda dalam me-reaktifitas perannya pada keikutsertaan dalam MEA 2015. Dengan demikian gambaran skeptisme terhadap peran generasi muda dalam bersaing di tataran global dapat diubah cara pandangnya menjadi bahwa kalangan pemuda pun dapat mengambil langkah kompetitif dalam menghadapi tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Ayo pemuda lawan apatisme dengan berani mengambil peran, lawan kemiskinan dengan usaha kreatif, dan lawan kebodohan dengan usaha keilmuan !. Just do more and think out of the box !. (Hafid Priawitantio, PPKn )

0 Komentar:

Posting Komentar